“ Ya tapi masih ada hal yang kamu engga tau tentang
aku”—Kamu
Aku
emang gak tau tentang kamu sama kaya kamu engga tau tentang aku. Emm.. tapi
setidaknya aku gak langsung menympulkan tanpa mendengar maksud dari orang lain
itu dulu(:
Seharusnya
ada kata penutup. Ada kesan dan pesan. Ada yang ganjal disini. Aku tak
sepenuhnya memberitahumu tentang argumenku sendiri.
(Pertama)
Maaf, aku akui aku salah, Aku tertutup kan? Seperti yang kamu maksud. Aku juga tak
peka terutama terhadap respon dari aksimu akhir-akhir itu, yang seharusnya ku
mengerti apa maksud dari semua itu. Sekali lagi maaf. Dan lagi hatiku masih
labil, dia masih terombang ambing terbawa arus ombak;kadang sedih dan khawatir.
Karena apa? Dia takut kehilanganmu;arah kompas dari tujuan kebahagiaannnya. Ia
pernah kehilangan arah karena kamu yang membisu,diam hilang bahkan pergi
menjauh tanpa sebuah penyebab yang jelas hingga kita berdua tak saling
berkomunikasi selama beberapa bulan dan
sampai sampai saat kita bertemu pun bagai orang yang saling tak mengenal. Antara ada dan
tiada.
Itu yang membuatku sedih ketika mengingatnya ,ketika
jauh dari orang yang ia harapkan, dari orang yang seharusnya membuatnya lebih
bahagia bukan bersedih. Masih ingatkah?
Itu terjadi sebelum akhirnya kamu datang kembali dan menjadi bagian dari cerita
hidupku lagi. aku merasa tak percaya bisa memiliki hatimu. Melihatmu dan
memandangimu sambil berkata dalam hati bahwa
aku menjadi salah satu bagian spesial darimu, begitupun sebaliknya pada dirimu. Aku terlalu bahkan sangat bahagia sehingga aku takut kehilangan. (Kedua)
aku takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya (lagi). Kalau kamu menghilang tak
ada kabar sehari , kamu tau kan aku engga “marah” tapi “khawatir” karena apa?
Karena semua itu. Aku Cuma takut kamu pergi(lagi)
aku menjadi salah satu bagian spesial darimu, begitupun sebaliknya pada dirimu. Aku terlalu bahkan sangat bahagia sehingga aku takut kehilangan. (
Oh ya tentang percaya? Aku percaya
kalo kamu ingin kita berdua selalu bahagia, tapi kejadian sedih sebelumnya
itu.. sikapmu yang membuat aku… Trauma? Tidak serumit itu.( Ketiga) Aku bukan tak percaya. Kepercayaan yang udah
pecah karena sikap gak akan utuh dan kokoh,sempurna kembali; seperti guci. To
me “Trust Is everything” Saat kita
bersatu aku berusaha memperbaiki pecahan demi pecahan itu.. tapi semua tak
cukup untuk memperbaikinya.
Jika memang harus melibatkanmu
tentang sedih dan kekhawatiranku ini, aku yakin kamu tak sepenuhnya mengerti.
Maka dari itu cukup aku yang merasakan semua karena aku jugalah yang tahu
bagaimana cara pulihkannya, bukan kamu. (Keeempat) Intinya aku bukan
memendam, hanya ingin meredam(:
You Don’t Understand
and I Can’t Explain…
*Baca baik baik dan( semoga) perlahan kamu akan mengerti


0 komentar:
Posting Komentar